Rektor ITB Pernah Gagal Jadi Dosen, Baru Lolos 13 Tahun Kemudian. Kisah inspiratif datang dari pimpinan Institut Teknologi Bandung yang pernah merasakan pahitnya kegagalan sebelum akhirnya memimpin kampus bergengsi tersebut. Rektor ITB pernah gagal saat pertama kali mendaftar sebagai dosen. Namun demikian, ia tidak membiarkan penolakan itu menghentikan langkahnya. Sebaliknya, ia menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi dan motivasi untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Perjalanan panjang selama 13 tahun menjadi bukti bahwa kesabaran dan konsistensi mampu membuka peluang yang sebelumnya tertutup. Selain itu, ia terus mengembangkan kompetensi akademik, memperluas jejaring riset, serta memperkuat pengalaman profesional. Karena itu, ketika kesempatan kembali datang, ia mampu membuktikan kualitasnya dan akhirnya lolos sebagai dosen. Kisah ini menegaskan bahwa keberhasilan sering kali hadir setelah proses panjang yang penuh ujian.
Proses Panjang Menuju Kursi Akademik ITB
Kegagalan pertama menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya. Saat itu, ia belum memenuhi sejumlah kriteria yang dibutuhkan kampus. Oleh sebab itu, ia memilih tidak menyerah dan justru menyusun strategi baru. Ia melanjutkan studi, aktif dalam penelitian, serta membangun rekam jejak akademik yang lebih kuat. Dengan langkah tersebut, ia meningkatkan daya saing secara signifikan.
Selain memperkuat kualifikasi akademik, ia juga memperluas pengalaman di berbagai institusi pendidikan dan proyek riset. Ia terlibat dalam kolaborasi nasional maupun internasional, sehingga wawasan dan jejaringnya berkembang pesat. Di sisi lain, ia terus mengevaluasi kekurangan yang dulu menjadi penyebab kegagalan. Dengan pendekatan ini, ia tidak hanya memperbaiki diri, tetapi juga membangun fondasi karier yang lebih kokoh.
Rektor ITB Mengubah Kegagalan Menjadi Strategi Baru
Alih-alih larut dalam kekecewaan, ia langsung menyusun rencana jangka panjang. Ia menetapkan target akademik yang jelas, mulai dari publikasi ilmiah hingga pengembangan kompetensi mengajar. Selain itu, ia mengikuti berbagai pelatihan dan seminar untuk memperluas perspektif. Setiap pencapaian kecil ia jadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Dengan disiplin tinggi dan komitmen kuat, ia berhasil membangun reputasi yang akhirnya membuka kembali pintu kesempatan di ITB.
Konsistensi Selama 13 Tahun Perjuangan
Selama 13 tahun, ia menjaga konsistensi tanpa kehilangan arah. Ia tetap fokus pada pengembangan diri meski peluang belum terlihat jelas. Bahkan ketika menghadapi tantangan baru, ia memilih bertahan dan belajar dari pengalaman tersebut. Selain itu, dukungan keluarga dan rekan sejawat memperkuat semangatnya untuk terus maju. Karena konsistensi inilah, ketika seleksi dosen kembali dibuka, ia tampil lebih siap dan percaya diri dibanding sebelumnya.
Baca Juga : Nenek 70 Tahun Bertahan Jualan di Tengah Sepi
Dari Dosen hingga Menjadi Rektor ITB
Setelah resmi bergabung sebagai dosen di ITB, ia tidak berhenti berkembang. Ia aktif dalam penelitian strategis, membimbing mahasiswa, serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Selain itu, ia menunjukkan kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif dalam berbagai proyek kampus. Berkat dedikasi tersebut, ia memperoleh kepercayaan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar.
Seiring waktu, kiprahnya semakin menonjol di lingkungan akademik. Ia memimpin berbagai inisiatif inovasi dan memperkuat kerja sama institusi dengan mitra industri maupun lembaga internasional. Karena rekam jejaknya solid, ia akhirnya dipercaya memimpin ITB sebagai rektor. Perjalanan ini menunjukkan bahwa proses panjang, ketika dijalani dengan tekun, dapat membawa seseorang ke posisi tertinggi dalam institusi pendidikan.
Kepemimpinan Rektor ITB Berbasis Pengalaman
Sebagai rektor, ia membawa perspektif unik karena pernah merasakan kegagalan. Pengalaman tersebut membuatnya lebih empatik terhadap mahasiswa dan dosen muda yang sedang berjuang. Selain itu, ia mendorong budaya inovasi dan kolaborasi agar ITB semakin kompetitif secara global. Ia juga menekankan pentingnya ketahanan mental dan integritas dalam dunia akademik. Dengan pendekatan tersebut, ia membangun lingkungan kampus yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Pesan untuk Generasi Muda Akademisi
Melalui berbagai kesempatan, ia sering membagikan pesan inspiratif kepada generasi muda. Ia menegaskan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Selain itu, ia mendorong mahasiswa dan dosen muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan memperluas jejaring. Menurutnya, kesuksesan lahir dari konsistensi, bukan dari keberuntungan semata. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk berani mencoba, berani gagal, dan berani bangkit kembali.
Ketekunan Membuka Jalan Kepemimpinan
Perjalanan Rektor ITB dari kegagalan menjadi Dosen hingga memimpin kampus ternama membuktikan bahwa waktu dan ketekunan mampu mengubah arah hidup seseorang. Dengan strategi terukur, konsistensi jangka panjang, serta kemauan belajar tanpa henti, ia berhasil meraih posisi puncak akademik. Kisah ini memperlihatkan bahwa kesuksesan sejati tumbuh dari daya tahan, komitmen, dan keberanian untuk terus melangkah meski pernah ditolak.


Tinggalkan Balasan